Welcome

Senin, 05 Maret 2012

Antara Mobil Esemka, Onde-onde dan Jati Diri Bangsa


 



Pada tahun 1950-an ketika Bangsa ini masih berumur tak kurang dari jemari tangan, Bung Karno sang proklamator yang menjadi Presiden membayangkan Republik Indonesia sebagai suatu negara yang besar, negara yang punya identitas diri, punya kedaulatan politik dan tentu saja punya kemandirian dalam bidang ekonomi. Pada masa itu Republik Indonesia sangat disegani karena mampu memimpin kebangkitan bangsa-bangsa di Asia, Afrika maupun dunia ketiga sehingga menjadi salah satu pelopor poros Non Blok di dunia internasional.
Kebanggaan dan jati diri bangsa Indonesia pada waktu itu telah menjadi suatu corak dan merk bagi suatu negara di zamrud khatulistiwa bernama Republik Indonesia. Karena sikapnya yang tegas dalam menghadapi perang dingin antara pihak komunis (Uni Soviet) dan pihak Liberal Barat (Amerika Serikat), dengan mengusung semboyan tidak berpihak atau Non Blok, maka pihak-pihak yang bertentangan sangat berkepentingan dengan sikap Indonesia dalam hubungan internasional. Pada awal tahun 1960, Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev mengunjungi Republik Indonesia selama 11 hari dan diterima dengan sambutan kenegaraan di istana merdeka.
Dalam suatu jamuan kenegaraan antara Presiden Sukarno dan Pemimpin Uni Soviet tersebut saling bercerita tentang kemajuan yang telah dicapai oleh negerinya masing-masing. Nikita Khruschev tentu saja banyak bercerita tentang kemajuan teknologi dan persenjataan negaranya yang sangat canggih dan untuk mengimbanginya Prseiden Sukarno lebih menyukai bercerita tentang perjuangan dan kebudayaan Indonesia. Karena terpesona dengan cerita Prseiden Sukarno, sang pemimpin Uni Soviet tersebut kemudian terheran-heran terhadap kue dan jajanan “onde-onde” yang disuguhkan oleh para juru masak istana merdeka. Nikita Khruschev heran melihat bagaimana “onde-onde” itu biji wijennya bisa tertata dengan rapi dan menanyakan pada Presiden Sukarno bagaimana cara memproduksinya dan dimana pabriknya. Prseiden Sukarno dengan bangganya berkata bahwa pabrik dari “onde-onde” ada di desa-desa karena masyarakat pedesaan terbiasa menciptakan mesinnya. Jawaban ini membuat Nikita Khruschev semakin percaya akan kekuatan masyarakat Indonesia.
Dewasa ini setelah 50 tahun berlalu, bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai macam tantangan baik dari dalam negerinya maupun luar negeri. Dari dalam negeri tantangan berupa rasa etnis kedaerahan yang berlebihan dan fanatisme agama telah sampai pada tingkat yang meresahkan masyarakat sedangkan tantangan dari luar negeri tentu saja arus globalisme dan konsumerisme akan barang-barang import semakin tidak terelakkan. Disamping ancaman tersebut yang sangat menyedihkan adalah bagaimana pembangunan karakter dan jati diri bangsa mulai disepelekan. Kita melihat bagaimana lemahnya para pemimpin negeri ini ketika berhadapan dengan kekuatan modal sehingga merusak peninggalan bersejarah yang ada di “percandian Muara Jambi” daerah Provinsi Jambi, “Situs Biting” Kabupaten Lumajang, Jawa Timur dan masih banyak yang lain. Para penguasa dan pejabat di daerah ini dengan entengnya menjawab dan berargumentasi bahwa semuanya tidak ada atatus hukumnya sehingga tidak perlu dilindungi.
Namun dari ratusan pemimpin itu ada seorang wali kota di Solo yaitu Joko Widodo yang berusaha membangun daerahnya dengan identitas dan jati diri bangsanya. Wali Kota Solo ini telah melakukan penataan “Pedagang Kaki Lima” sebagai kakuatan ekonomi rakyat. Ia juga membatasi kehadiran pedagang besar seperti “Supermarket” dan tetap membina kekuatan “Pasar Tradisional” yang ada di daerahnya sehingga ketika Gubernur jawa Tengah meninginginkan pembangunan “Pabrik Es Petojo” untuk dijadikan Supermarket maka dengan serta merta ditolaknya. Meskipun dibilang “Goblok” oleh atasannya tetapi sang Wali Kota tidak bergeming dan masyarakat Solo mendukungnya.
Kebijakan dan pandangan yang menyangkut identitas dan kebangsaan Indonesia dari Joko Widodo ini tidak berhenti sampai disitu saja. Belakangan malah dia mempromosikan “Mobil Esemka” yang merupakan rakitan dari anak-anak SMK Solo sebagai kendaraan dinasnya. Banyak pihak yang mengecam, namun lebih banyak lagi yang mendukung karena negeri ini memang butuh identitas kebudayaan dan ekonomi yang membanggakan. Tak kurang banyak menteri, politisi, artis, orang kaya pun memesan mobil rakitan ini hingga mencapai 6000 unit. Namun ketika “Mobil Esemka” ini diuji kelayakannya oleh BPPT, ternyata hasilnya gagal dan calon “Mobil Nasional” yang kita banggakan itu tidak bisa dipasarkan. Joko Widodo pun merasa berjalan sendiri dan tidak mendapat dukungan dalam mensukseskan “Mobil Esemka” ini lolos uji.
Hal ini tentu saja berbeda dengan 50 tahun yang lampau dimana “onde-onde” dari Indonesia yang sangat sederhana tersebut bisa membuat terpesona dan terkagum-kagum Nikita Khrushchev dari Uni Soviet, sedangkan sekarang ini sebaik apapun yang kita punya terkadang harus berhadapan dengan  kekuatan modal asing yang begitu besar tanpa ada dukungan yang sungguh-sungguh dari petinggi negara.  (pim)
Foto: http://data.tribunnews.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar