Welcome

Senin, 05 Maret 2012

Forum Guru Besar: Manfaatkan “Piramida Garut” dengan Sosiologi Pariwisata

    Berkembangnya informasi yang dirilis oleh Tim Katostropik Purba bahwa adanya struktur yang menyerupai bentuk piramida di kabupaten Garut Jawa Barat di Media Massa, telah memunculkan beragam interpretasi dari banyak kalangan. Tentu saja apa yang ditemukan oleh para peneliti kebencanaan purba yang didominasi oleh para ahli geologi merupakan hal yang sangat menggemparkan. Karena bukan saja menyangkut Indonesia, tetapi juga mempengaruhi dunia internasional khususnya beberapa disiplin ilmu tertentu.

Mengingat bahwa apa yang ditemukan oleh Tim Katastropik Purba di Kabupaten Garut berpotensi menjadi ikon baru dari dunia pariwisata, maka kami dari Forum Guru Besar Kebijakan Publik memberikan beberapa catatan kepada pemangku kebijakan dan juga kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan secara maksimal penemuan tersebut :

  1. Pariwisata adalah fenomena kemasyarakatan yang menyangkut manusia, masyarakat, kelompok, organisasi, kebudayaan dan lain sebagainya. Karena itu perlu juga perhatian kepada motivasi turistik, peraturan-peraturan, hubungan, dan institusi dan akibatnya pada wisatawan dan kelompok-kelompok yang berkaitan dengan wisatawan tersebut dilokasi temuan Tim Katastropik Purba. Pemerintah pusat dan daerah perlu menyiapkan bahan pendukung dan narasi yang memudahkan wisatawan dalam menikmati narasi terhadap objek wisata di wilayah temuan Tim Katastropik Purba di Kabupaten Garut.
  2. Perlu dikaji masalah-masalah kepariwisataan dalam berbagai aspeknya, karena pariwisata telah menjadi aktivitas sosial ekonomi dominan dewasa ini, bahkan disebut-sebut sebagai industri terbesar sejak akhir abad 20, yang juga menyangkut pergerakan barang, jasa dan manusia dalam skala terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah manusia. Perlu difikirkan infstruktur pendukung di wilayah Objek Daya Tarik Wisata disekitar wilayah Kabupaten Garut.
  3. Pariwisata bukanlah suatu kegiatan yang beroprasi dalam ruang hampa. Pariwisata sangat terkait dengan masalah sosial, politik, ekonomi, keamanan, ketertiban, keramah-tamahan, kebudayaan, kesehatan, termasuk berbagai institusi sosial yang mengaturnya.
  4. Pariwisata bersifat sangat dinamis, sehingga setiap saat memerlukan analisis atau kajian yang lebih tajam. Sebagai suatu aktivitas dinamis, pariwisata memerlukan kajian terus menerus (termasuk dari aspek sosial budaya), yang juga harus dinamis, sehingga pembangunan pariwisata bisa memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, khususnya masyarakat lokal di Kabupaten Garut itu sendiri.
  5. Pariwisata tidaklah eksklusif, dalam arti bahwa pariwisata bukan saja menyangkut bangsa tertentu, melainkan juga dilakukan oleh hampir semua ras, etnik dan bangsa, sehingga pemahaman aspek-aspek sosial budaya sangat penting. Untuk itu perlu menjaga netralitas lokasi temuan Tim Katastropik Purba di Kabupaten Garut dari kepentingan sempit pihak-pihak tertentu.
  6. Pariwisata selalu mempertemukan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda, yang mempunyai perbedaan dalam norma, nilai, kepercayaan, kebiasaan dan sebagainya. Pertemuan manusia atau masyarakat dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda akan menghasilkan berbagai proses akulturasi, dominasi, asimilasi, adopsi, adaptasi, dalam kaitan hubungan antar budaya.
Sebagaimana lokasi pariwisata lain di belahan dunia, Pemerintah Pusat dan daerah tidak harus menunggu selesainya proses eskavasi dan lainya untuk mengembangkan kepariwisataan di kabupaten Garut, karena wisatawan memiliki banyak motif, diantaranya Motif fisik, Motif budaya, Motif interpersonal dan Motif status. Sehingga masyarakat dapat segera memanfaatkan secara maksimal hasil temuan Tim Katastropik Purba di Kabuten Garut untuk diantaranya meningkatkan prekonomian masyarakat.
*) Prof Dr H Zaidan Nawawi MSi (Rektor Universitas Sjakhyakirti).
Forum Guru Besar Kebijakan Publik & Guru Besar Sosiologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar